Minggu, 10 Januari 2010

PERANAN PENDIDIKAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP PRILAKU SISWA DI SEKOLAH


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Pendidikan agama merupakan bagian pendidikan yang sangat penting  yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, antara lain akhlak,  keagamaan dan sosial masyarakat. Agama memberikan motivasi hidup dalam kehidupan. Oleh karena itu agama perlu diketahui, dipahami, diyakini dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga dapat menjadi manusia yang utuh. Agama mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan dirinya yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kebahagiaan lahiriah dan rohaniah.
Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangah besar pada perkembagan pikiran otak manusia. Kita bandingkan saja orang yang berpendidikan denga orang yang tidak berpendidikan dalam berbicara saja sudah jauh berbeda, karena orang yang berpendidikan pengetahuan mengenai ilmu ditata sedemikian rupa. Tapi, kalau orang yang tidak berpendidikan hanya mnegetahui apa yang dia lakukan dan rasakan tanpa tahu apa maksudnya serta kegunaanya.
 Siswa yang sedang megikuti  pendidikan mengalami beberapa fase perkembangan baik fase intelektual, emosional, dan spiritual. Tiga hal tersebut terlihat jelas di dunia pendidikan, fakta di lapangan banyak sekali siswa yang berprilaku yang berpariatif. Hal itu ditimbulkan akibat dari perubahan fase tadi. Sehingga menjadi tantangan bagi pendidik untuk merubah siswa dengan cara-cara yang berpariatif tergantung pendidik itu sendiri.
Pendidik Aqidah Akhlak adalah termasuk pendidikan yang sangat penting diberikan kepada anak sebagai fondasi awal dalam mengahadapi relaita perkembangan zaman yang dari tahun ketahun semakin berkembang, sehinnga dapat menimbulkan pengaruh yang kuat bagi semua pihak yang terkait. Maka dengan adanya pendidikan aqidah akhlak anak tidak akan cepat terpengaruh dan bisa mempertimbangkan mana prilaku yang baik dan yang buruk.

B.   Rumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas maka penulis merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
a.    Bagaimana pengertian pendidikan?
b.    Bagaimana Tujuan dan Proses Pendidikan?
c.    Bagaimana Unsur-unsur Pendidikan?
d.    Bagaimana Pengertian Aqidah Akhlak?
e.    Bagaimana Urgensi Pendidikan Aqidah Akhlak?
f.     Bagaimana Dasar dan Landasan Hukum Pendidikan Aqidah Akhlak?
g.    Bagaimana Pengertian Prilaku?
h.    Bagaimana Jenis-jenis Prilaku?
i.      Bagaimana Faktor yang Mempengaruhi Prilaku Siswa?
j.      Bagaimana Peranan Pendidikan akidah akhlak terhadap prilaku siswa di sekolah?
C.   Tujuan Penulisan
Dengan adanya makalah ini, para mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami hal-hal di bawah ini.
a.    Bagaimana pengertian pendidikan?
b.    Bagaimana Tujuan dan Proses Pendidikan?
c.    Bagaimana Unsur-unsur Pendidikan?
d.    Bagaimana Pengertian Aqidah Akhlak?
e.    Bagaimana Urgensi Pendidikan Aqidah Akhlak?
f.     Bagaimana Dasar dan Landasan Hukum Pendidikan Aqidah Akhlak?
g.    Bagaimana Pengertian Prilaku?
h.    Bagaimana Jenis-jenis Prilaku?
i.      Bagaimana Faktor yang Mempengaruhi Prilaku Siswa?
j.      Bagaimana Peranan Pendidikan akidah akhlak terhadap prilaku siswa di sekolah?
D.   Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab, yaitu: ab I pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisannya.Bab II isi, yang terdiri dari :
a.    Bagaimana pengertian pendidikan?
b.    Bagaimana Tujuan dan Proses Pendidikan?
c.    Bagaimana Unsur-unsur Pendidikan?
d.    Bagaimana Pengertian Aqidah Akhlak?
e.    Bagaimana Urgensi Pendidikan Aqidah Akhlak?
f.     Bagaimana Dasar dan Landasan Hukum Pendidikan Aqidah Akhlak?
g.    Bagaimana Pengertian Prilaku?
h.    Bagaimana Jenis-jenis Prilaku?
i.      Bagaimana Faktor yang Mempengaruhi Prilaku Siswa?
j.      Bagaimana Peranan Pendidikan akidah akhlak terhadap prilaku siswa di sekolah?
Bab III penutup, yang terdiri dari simpulan dan saran dan yang terakhir daftar pustaka
 

BAB II
PERANAN PENDIDIKAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP PRILAKU SISWA DI SEKOLAH

A.    Pendidikan
1.    Pengertian Pendidikan
Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir  pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih moderan. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan mengkritisi dengan cara mengungkapkan konsep dan teori pendidikan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut bahasa Yunani : pendidikan berasal dari kata "Pedagogi" yaitu kata "paid" artinya "anak" sedangkan "agogos" yang artinya membimbing "sehingga " pedagogi" dapat di artikan sebagai "ilmu dan seni mengajar anak"
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Wikipedia,  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.
  1. Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.
  1. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.
  1. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara
Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.
  1. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyimpanan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.
  1. Pendidikan Menurut GBHN
GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Dari pernyataan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.    Tujuan dan Proses Pendidikan
a.    Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
b.    Proses pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.
c.    Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)
PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad 16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda sampai paling tua.(Cropley:67)
            Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan:
a.    Rasional
b.    Alasan keadilan
c.    Alasan ekonomi
d.    Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek
e.    Alasan perkembangan iptek
f.     Alasan sifat pekerjaan

3.    Unsur-Unsur Pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
1.    Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2.    Orang yang membimbing (pendidik)
3.    Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4.    Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
5.    Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
6.    Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
7.    Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
1.    Peserta Didik
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya.
Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:
a)    Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
b)    Individu yang sedang berkembang.
c)    Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
d)    Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. 
2.    Orang yang membimbing (pendidik)
Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.
3.    Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.
4.    Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
a.        Alat dan Metode
Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat pendidikan dibedakan atas alat yang preventif dan yang kuratif.
b.       Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)
Lingkungan pendidikan biasanya disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

B.     Aqidah Akhlak
1.    Pengertian Aqidah Akhlak
Dilihat dari sudut bahasa (etimologi) perkataan akhlak (bahasa Arab) adalah bentuk dari kata Khulk.  Khulk di dalam Kamus Al-Munjib berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Di dalam Da’iratul Ma’arif dikatakan : ﺔﻴﺑدﻷا نﺎﺴﻧﻹا تﺎﻔﺻ ﻲه قﻼﺧﻷا
Dari pengertian di atas dapatlah diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya yang
selalu ada padanya.  Sifat itu dapat  lahir berupa perbuatan baik, disebut
akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan  kehendak.Ini berarti bahwa kehendak itu bila dibiasakan akan sesuatu maka kebiasaan itu disebut akhlak.  Contohnya, bila kehendak itu biasanya memberi, maka kebiasaan itu ialah akhlak dermawan. Di dalam  Ensiklopedia Pendidikan  dikatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari  sikap jiwa yang benar terhadap Khaliknya dan terhadap sesama manusia.
Jadi, yang dinamakan aqidah akhlak adalah suatu mata pelajaran yang paling berperan dilakukan dalam pembentukan etika, moral, kesusilaan dan kesopanan yang digambarkan pada suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Aqidah dan akhlak adalah dua term yang saling berkaitan sehingga membentuk pribadi manusia dalam mempublikasikan dari aqidah masing-masing.

2.    Urgensi Pendidikan Aqidah Akhlak
Salah satu keutamaan Islam bagi umat manusia adalah adnya system yang paripurna dan konsisten dalam membina Aqidah dan Akhlak serta mental, sehingga melahirkan generasi penerus yang berahlakul karimah yang memberlakukan prinsip-prinsip kemulyaan. Semua itu dimaksudkan untuk merubah manusia dari kegelapan syirik, kebodohan, kekacauan akhlak menuju cahaya tauhid, ilmu, hidayah dan kemantapan aqidah.
Kesempurnaan manusia terlihat dalam system pendidikan  rasulullah dalam mendidik para sahabat yang telah menghasilkan generasi yang tidak ada duanya. Namun, bukan berarti sepeninggal Rasulullah manusia tidak mampu melaksanakan pendidikan Aqidah akhlak. Tetapi, Rasulullah telah meninggalkan dua kurikulum yaitu Al-Qur’an dan Hadist. 
Pendidikan aqidah akhlak bertujuan menumbuhkan keseimbangan kepribadian manusia yang mempunyai Aqidah yang kuat dan tidak tergoyahkan oleh apapun. Oleh karena itu, Islam memandang kegiatan pendidikan merupakan satu kesatuan integral yang melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia. Jadi, pendidikan Aqidah Akhlak  menjadi tanggung jawab manusia secara keseluruhan dalm melahirkan kehidupan yang sehat, bersih dalam berahlak yang sesuai dangan ajaran Agama Islam.

3.    Dasar dan Landasan Hukum Aqidah Akhlak
a.    Dasar Operasional
Dasar Operasional adalah mengatur pelaksanaan pendidikan agama terutama bidang studi Aqidah Akhlak di sekolah sesuai dangan undang-undang No. 20 tahun 2003 Pasal 36 dan 38, kurikulum dikembangkan dengan mengacu kepada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b.    Dari segi Agama
Pendidikan dalam agama Islam telah banyak diterangkan di dalam Al-Qur’an dan Hadist. Selain Al-qur’an, Rasulullah juga telah memberikan contoh secara lansung baik akhlak yang terpuji maupun akhlak tercela. Sebagaimana Firman Allah dalam surat At-Taubat ayat 123 dan Surat Al-Ahzab ayat 21.

C.    Perilaku  
1.    Pengertian Prilaku
Perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud di gerakan (sikap); tidak saja badan atau ucapan. Simpang, sebagai kata dasar menyimpang memiliki pengertian sebagai (1) sesuatu yang memisah (membelok, bercabang, melencong, dan sebagainya) dari yang lurus (induknya); (2) tempat berbelok atau bercabang dari yang lurus (tentang jalan). Sedangkan pengertian menyimpang sendiri adalah (1) membelok menempuh jalan yang lain atau jalan simpangan ; (2) membelok supaya jangan melanggar atau terlanggar (oleh kendaraan dan sebagainya); menghindar (3) tidak menurut apa yang sudah ditentukan ; tidak sesuai dengan rencana dan sebagainya ; (4) menyalahi (kebiasaan dan sebagainya); (5) menyeleweng (dari hukum,kebenaran, agama, dan sebagainya).

2.    Jenis-jenis Akhlak
 Jenis-jenis akhlak dapat digolongkan menjadi dua bagian.
1.    Akhlak baik atau terpuji, yaitu  perbuatan baik terhadap Tuhan, sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain.
Akhlak terpuji merupakan salah satu media pendidikan yaitu larangan, keteladanan, hukuman dan ganjaran yang dijelasakan kepada anak didik agar mereka bisa memahami apa yang harus lakukan, sehingga mereka tahu jalan untuk kedepanya bagaimana sebagai modal awal.
2.    Akhlak buruk atau tercela, yaitu perbuatan buruk terhadap Tuhan, sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain.
Akhlak tercela digambarkan kepada anak didik sebagai ibroh. Anak didik dalam menghadapi kehidupannya akan mudah memahami seperti apa jalan yang harus dipilih, apabila mereka sudah tahu perbuatan itu adalah menyalahi aturan ajaran agama Islam.

3.    Faktor yang mempengaruhi Prilaku siswa
Faktor yang mempengaruhi prilaku siswa itu banyak sekali, tetapi yang paling berpengaruh itu ada dua bagian.
1.    Faktor Personal
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia ada dua yaitu faktor personal dan faktor situasional. Faktor personal terdiri dari faktor biologis dan faktor sosiopsikologis. Faktor biologis menekankan pada pengaruh struktur biologis terhadap perilaku manusia. Pengaruh biologis ini dapat berupa instink atau motif biologis. Perilaku yang dipengaruhi instink disebut juga species characteristic behavior misalnya agresivitas, merawat anak dan lain-lain. Sedangkan yang bisa dikelompokkan dalam motif biologis adalah kebutuhan makan, minum dan lain-lainnya.
Faktor personal lainnya adalah faktor sosiopsikologis. Menurut pendekatan ini proses sosial seseorang akan membentuk beberapa karakter yang akhirnya mempengaruhi perilakunya. Karakter ini terdiri dari tiga komponen yaitu komponen afektif, kognitf dan komponen konatif. Komponen afektif merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis. Dalam komponen ini tercakup motif sosiogenesis, sikap dan emosi.
Komponen kognitif berkaitan dengan aspek intelektual yaitu apa yang diketahui manusia. Komponen kognitif terdiri dari faktor sosiopsikologis adalah kepercayaan, yaitu suatu keyakinan benar atau salah terhadap sesuatu atas dasar pengalaman intuisi atau sugesti otoritas. Komponen konatif berkaitan dengan aspek kebiasaan dan kemauan bertindak. Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang relatif
2.    Faktor Situsional
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor situasional. Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi. Faktor-faktor situasional ini berupa faktor ekologis, misal kondisi alam atau iklim faktor rancangan dan arsitektural, misal penataan ruang
faktor temporal, misal keadaan emosi suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara teknologi faktor sosial, mencakup sistem peran, struktur sosial dan karakteristik sosial individu lingkungan psikososial yaitu persepsi seseorang terhadap lingkungannya stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku.

D.    Peranan Pendidikan Aqidah Akhlak terhadap Prilaku Siswa Di Sekolah
Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik baik dalam bentuk pendidikan formal atau non formal” (HM. Arifin, 1976:12).Usaha ini sudah barang tentu memerlukan beberapa penunjang sehingga tujuan yang hendak di capai terwujud dengan baik. Maka dapat di pahami bahwa dalam proses belajar mengajar, siswa tidak hanya di tuntut untuk memiliki sejumlah pengetahuan, tetapi juga di tuntut untuk memiliki pengalaman dan kepribadianyang baik mengenai pengetahuan yang di milikinya.
Baik pengetahuan maupun pengalaman siswa dalam proses pembelajaran di pengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang keduanya saling berkaitan. Sedangkan faktor eksternal yaitu suatu hal yang berasal dari luar diri siswa, seperti guru, situasi kelas, metode pendidikan, latar belakang ekonomi, latar belakang social dan lain sebagainya yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Guru merupakan pasilitator, berarti seorang guru dalam proses mentrasfer pelajaran harus benar-benar tahu, bagaimana cara menjadikan proses pembelajaran ini seefektif mungkin seperti penggunaan metode pembelajaran, cara menghadapi siswa, cara melakukan persiapan pembelajaran dan sebagainya. Situasi kelas, sebagai tempat dimanaproses pembelajaran berlangsung harus benar-benar comfortable (nyaman), composed (tenang) dan seterusnya, sehingga dapat meningkatkan konsentrasi belajar siswa.
Sebagaimana telah disinggung diatas, dalam merangsang minat belajar siswa membutuhkan suatu metode pendekatan yang relevan dengan materi yang diajarkan, adapun metode tersebut dimaksudkan cara operasional yang diarahkan untuk tercapainya tujuan pengajaran (Efendi Zulkifly dan E. Yusnandar, 2000:6). Dalam hal proses belajar mengajar metode pembelajaran memegang peranan penting karena dengan adanya metode tersebut KBM akan lebih hidup dan tidak fakum, sehingga akan menambah minat belajar siswa.
Setiap siswa mempunyai latar belakang sosial yang berbeda-beda, ada yang berasal dari lingkungan perkotaan, ada pula yang berasal dari lingkungan pedesaan, yang sudah tentu dua lingkungan yang berbeda ini memberikan pengaruh yang berbeda pula terhadap siswa terutama dalam hal psikisnya, dan hal ini sudah tentu memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap prestasi belajar siswa. Dan lingkngan ekonomi pun diindikasikan mempunyai pengaruh terhadap perkemabangan prestasi siswa, karena dengan adanya kesenjangan ekonomi, memberikan peluang adanya perbedaan gaya hidupyang sudah tentu hal ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa.
Faktor internal yaitu keadaan yang mempengaruhi keberhasilan siswa yamg berasal dari dalam, istilah ini menunjukkan adanya pembawaan yang di miliki siswa, yang meliputi aspek psikologis, seperti kesehatan pisik, kesehatan psikis,minat, bakat dan sikapnya.
Kesehatan fisik jelas berpengaruh sekali terhadap proses pembelajaran siswa, bagaimana mungkin seorang siswa dapat berkonsentrasi dalam belajar apabila ia tidak merasa nyaman yang disebabkan kondisi tubuhnya yang tidak sehat.
Kondisi kesehatan psikis pun merupakan hal yang sangat penting sebagai kontrol kemampuan berfikir seseorang secara sadar, bagaimana mungkin seorang siswa mampu berfikir dan mencerna materiyang disampaikan apabila pola pikirnya tidak dapat berfungsi dengan baik.
Minat merupakan salah satu faktor yang memberi motifasi untuk dapat belajar dengan baik, karena dengan adanya minat ini seorang siswa akan melakukan proses pembelajaran dengan senang hati, tanpa adanya keterpaksaan sehingga semua perhatiannya akan terfokus secara menyeluruh terhadap materi pembelajaran.
Bakat berfungsi sebagai modal pembelajaran, dengan adanya bakat seorang siswa akan jauh lebih mudah mencerna bahan pembelajaran bahkan tanpa hadirnya seorang pendidik sekalipun.
Terakhir sikap, saat berlangsung proses belajar mengajar, sikap berperan sebagai alat pengendalian diri, misalnya dengan adanya sikap yang baik seseorang akan mempu menempatkan diri dengan situasi yang dihadapinya. Sikap merupakan faktor internal yang berpengeruh dalam kebiasaan belajar, namun perkembangan kebiasaan belajar tidak terlepas dari faktor proses pendidikan baik langsung maupun tidak langsung., sikap merupakan kesiapan mental individu yang mempengaruhi, mewarnai, bahkan menentukan kegiatan individu yang bersangkutan dalam memberikan respon dalam obyek atau situasi yang memberi arti baginya (Rochman Nata Widjaya. 1987:40).
Seorang siswa yang memiliki sikap positif pada materi pelajaran, dalam hal ini pelajaran akidah akhlak, maka ia akan berupaya secara maksimal untuk membiasakan belajar dengan baik. Bahkan sikap positif itu memungkinkan pula termanifestasi dalam bentuk pengalamannya. Karena dalam pembelajaran akidah akhlak banyak materiyang berupaya agar siswa memiliki pemahaman dan pengalaman yang baik, untuk menanamkan sikap positif dalam mata pelajaran tersebut.


BAB II
PENUTUP
A.   Simpulan
Pendidikan akidah akhlak adalah sebuah  pendidikan  yang mengutamakan pedoman dalam menghadapi perjalan dalam hidup manusia terutama siswa di sekolah.Pendidikan agama dalam sekolah sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik, karena pendidikan agama mempunyai dua aspek terpenting. Aspek pertama dari pendidikan agama adalah yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian. Anak didik diberikan kesadaran kepada adanya Tuhan lalu dibiasakan melakukan perintah-perintah Tuhan dan meninggalkan larangan Nya. Dalam hal ini  anak didik dibimbing agar terbiasa berbuat yang baik, yang sesuai dengan ajaran agama. Aspek kedua dari pendidikan agama adalah yang ditujukan kepada pikiran yaitu pengajaran agama itu sendiri.
Kepercayaan kepada Tuhan tidak akan sempurna bila isi dari ajaran-ajaran Tuhan tidak diketahui betul-betul. Anak didik harus ditunjukkan apa yang disuruh, apa yang dilarang, apa yang dibolehkan, apa yang dianjurkan melakukannya dan apa yang dianjurkan meninggalkannya menurut ajaran agama Islam.
Melalui peranannya sebagai pendidik guru diharapkan mampu mendorong siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui bermacam-macam sumber dan media. Guru hendaknya mampu membantu setiap siswa untuk secara efektif dapat mempergunakan berbagai kesempatan belajar dari berbagai sumber serta media belajar.
Kegiatan siswa dalam bersikap dan bertingkah laku yang baik di sekolah karena kurangnya pengetahuan siswa tentang budi pekerti. Oleh karena itu perlu penambahan jam pada mata pelajaran agama di mata pelajaran akidah akhlak, fiqh dan Al-Qur’an hadits. Selain itu juga faktor guru sangat mendukung dalam mendidik prilaku siswa. Jika seorang guru agama itu bertingkah laku yang baik maka siswanya juga akan mencontoh prilaku tersebut atau sebaliknya. Karena seorang guru adalah suri tauladan bagi siswanya.
B.   Saran
Pendidik harus bisa membuat suasana pendidikan yang epektif dan efesien sehingga anak didik menjadi semangat untuk belajar di sekolah. Guru Juga harus bisa memahami karakter setiap siswa itu sendiri  sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik di kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar